Tampilkan postingan dengan label MY POEM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY POEM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2018

Jadilah

Angin berhembus perlahan, senyapkan wajahmu yang menawan
Kicauan burung dendangkan rasa, membuat suaramu makin indah
Awan pun mulai cerah, secerah hatimu yang tak pernah gundah
Gemerisik hujan tak lagi kacau, setenang jiwamu yang tak lagi risau
Bunga pun ikut bukakan kelopak, dan harumkan wangimu yang sedang menapak
Segeralah berita ini tersebar, agar orang tahu kau bintang yang bersinar
Terangkan bintangmu hingga benderang, agar orang tak lagi perang
Kilaukan sinarmu dengan kemenangan, segera orang tahu akan kesenangan
Hamburkan cahayamu dalam gelap, hinggga dunia dapat terang gemerlap
Lambungkan bintang yang haru biru, agar kau lahirkan generasi baru
Sekarang…
Jangan kau tutup klopak itu, biarkan dia masuk dengan permisimu
Jangan kau telantarkan bintang kecilmu dlm dunia sempit, karena dia akan terjepit
Jangan terlalu sebarkan sarimu tuk yg lain, karena madumu hanya terhisap oleh cintamu selain
Jangan kau letak duri dalam tubuhmu, hingga sakit bagi duniamu
Hai bintang dunia…
Jadilah bintang selagi kau bisa
Jadilah terang dalam gelap
Jadilah suci dalam dosa
Jadilah ilmu dalam bodoh
Jadilah kekuatan dalam kelemahan
Jadilah keceriaan dalam kesediahan….jadilah

Senin, 13 Juli 2009

Kelak nanti

Aku hanyalah semak diantara belukar

Aku hanya semut di anatara binatang hutan

Aku hanya ranting di antara pepohonanan

Aku hanya akar diantara tetanaman

Sadarkah engkau bahwa aku

mudah terinjak diantara sejumput rumput,

mudah tertindas diantara sekian binatang

mudah dipatahkan diantara sekian dahan pohon

Jangan lakukan itu, karena

aku bukan duri di dalam dagingmu

aku bukan badai yang akan menghantamu

aku baukan paku diantara langkahmu

Jangan abaikan aku, kelak kau akan tahu bahwa

semak itu aka tersusun jadi rumah indahmu

semut itu akan kumpulkan makananmu

ranting itu akan perpanjang sisa hidupmu

akar itu akan bangun fondasimu yang merapuh

Sabtu, 11 Juli 2009

Wahai Bunda Pertiwi....


ku tlah dihantam bencana berlaksa-laksa, diuji celaka berjuta-juta..mengapa aku harus risau...
Meski jiwaku mengharu biru, hatiku menghitam pekat..kan kulawan pisau yang menghunus..karena cinta kekuatanku..
bergeloralah bulan itu, temaramlah malam ini, senyaplah angin dingin..agar aku dapat mendengarkan nafas-Nya
bendunglah laut itu sebisamu agar bundamu salut,
genggamlah isi gunung itu semampumu, agar pertiwimu tak merenung,
Tebaslah angin yang gemirisik, sampai kau ta takut dunia
Ambilah matahari di upukmu, hingga kau dapat terangkan duniamu
Rangkulah bulan yang sendu, agar tiap malam engkau benderang dimanapun…