Selasa, 28 Juli 2009

Aku ta tahu

Aku tak tahu harus mulai dari mana?
Aku tak tahu harus menulis apa?
Ditanganku duka
Ditanganku suka

Mencari apa yang dicari
Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu
Dari mana kamu datang?
Aku tak mendengar langkahmu

By Iwan F

Jumat, 17 Juli 2009

Ta kan cemburu

Apa aku harus cemburu...
melihat ombak itu terus bergerak
memperhatikan angin itu terus melambai
melihat sayap burung itu terus mengepak
memperhatikan daun2 membelai

Apa aku harus iri...
Menyaksikan air itu terus mengalir
Mendengar halilintar itu itu bergemuruh
Menyaksikan bintang terus bersinar
Medengar rintik hujan gemeriuh

tapi itu kehendakMu bukan?

Hari ini,
Gunung kami meletup murka
Ombak kami membludak marah
Air kami menerjang murka
Tanah kami gemuruh marah

Ya Allah,
Apa aku terlanjur cemburu dan iri?
hingga Kau menimpakan ini?

Lindungi kami Ya Allah,
Aku ta kan lagi cemburu dan iri pada mereka

Kamis, 16 Juli 2009

Bunga apa kau?

Indah memang kumbang melihat parasmu..
Cantik jelas sedapnya dipandang para kupu2..
Wangi semerbak kumbang menciumu..
Manis memang dirasakan oleh semut2..

Kau kata kau sudah punya lebah yang baik..
Lebah untuk pasangan hidup..
Kau kata kau akan setia pada lebahmu itu..
Lebah yang akan mendampingmu..

Tapi..
Kau bukakan kelopakmu besar2..
Kau hiraukan mahkotamu yang cantik..
Membuat lebah, kupu2, kumbang dan semut mendekatimu..
Anehnya, kau terima mereka..

Lalu,
Kau minta kupu2 itu menari untukmu..
Kau mau lebah itu mengobatimu..
Kau minta semut itu membawakan makananmu..

Namun,
Kau ta beri apa yg mereka mau..
Kau ta biarkan madu dihisap oleh mereka..
Kau ta mau merugi sendiri..

Aku ta tahu apa maumu..
Aku ta mau kau terluka..
Aku ta mengerti mengapa kau seperti itu..

Hati-hatilah..
Karena malaikat akan mencatatnya..
Karena mereka akan membalasnya..
Karena Tuhan Maha Mengetahui hatimu..
Karena Tuhan akan membalas yang lebih buruk...


Rabu, 15 Juli 2009

Nyanyian jiwa

Nyanyian jiwa
Bersayap menembus awan jingga
Mega mega Terburai diterjang halilintar.
Mata hati bagai pisau merobek sangsi
Hari ini kutelan semua masa lalu.
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri

Gelisahku..

Luruh lantah hingga menggelantah
Gundah gulana hingga merana
Berlaksa duka hingga nestapa
Mengharu biru hingga berderu

Resah gelisah ta tahu mengapa
Meringis tangis ta tahu apa
Kacau balau entah bagaimana
Sakit menjerit ada apa

Selasa, 14 Juli 2009

Kamukah wanita pelapor itu...

Awalnya, manis mulutmu terucap..
Hingga ku tertegun dan kuanggap kau mesra..
Harapanku, kau menjadi temanku tetap..
Bangga bila berkawan denganmu serasa..

Hari itu,
Aku pun iba melihatmu saat kenegriku sendiri ta ada kawan..
Lalu kubagi kau kesempatan datang ke Bandung...
Moga kau jadi kawan yang menawan..
Agar hatiku ta kosong dan merasa mendung..

Dan sepertinya kau dapat bantu..
Ta sedkitpun terpikir kau seperti ini sekarang..
Kenapa kau sekarang jadi hantuu...
Menakutkan kami semua orang...

Aku ta tahu siapa bagi tahu..
Aku ta tahu mengapa dia tahu..
Mana aku tahu orang jadi tahu..

Rupanya kau katakan semua..

Rumahku cantik..
Mobilku menarik..
Sampai kau katakan pembantuku banyak..
Dan uangku banyak...

Kau menjadi orang kepercayaan bosku..
Rupanya kau spy hebat...
Membuat terlena bosku ...
Karena kau telah mengadu dengan hebaaat...

Aku benci...
Seandainya aku tahu itu..
Menyesal kau bawa ke rumahku..
Sepertinya segalau kau tahu..

Kaukah ular berkepala dua..
Mempunyai hati dua..
Hati dengki pada kawanmu..
Dan hati "oke" saja pada bosku..

Aku harap Tuhan membalas kebaikanmu..
DAN KEDENGKIANMU....

Hari ini, 14 tahun yang lalu..

Hari itu, aku berkeluh kesah pada teman tentang penderitaanmu..

Sabtu itu, hatiku gundah entah siapa yang tahu..

Gelisahku terjawab saat kutelepon rumah..

Aku melihatmu telah terbaring di tempat orang ta berdaya..

Tapi…

Mengapa kau menyuruhku pulang..

Mengapa ta kau ijinkan aku menunggumu..

Kau hanya katakan:

Selesaikan sekolahmu dengan cepat, jadilah orang sukses…

Luluh hatiku terpaksa pulang..

Minggu pagi, hatiku makin tak menentu..

Kucoba mencari suasana lain dengan sahabatku yg hilang..

Lalu aku pulang ke rumah tempat KKN..

Semua di depan rumah itu menanntiku dengan bisu..

Air mata mata sepuh pun ta tahan melihatku..

Cep, geura uih ayeuna ka Bandung…

Gemuruh hatiku di bus…

Ya Allah moga dia baik2 saja…

Hey…mengapa temanku mengikutiku di belakang..

Ada apa ini..jantungku makin bergejolak..

Berlalilah aku kencang mendatangi RSHS..

Lalu aku dapat jawaban dari suster..

Anda ko anaknya ga tahu dia dah tiada..

Tak sadar celaka, aku lari kencang menuju rumah neneku..

Ternyata kau telah terbujur kaku…

Aku berteriak keras, dan ta sadarkan 30 menit kemudian..

Isak tangis ku keluarkan agar aku Ridho melepasnya..

Kau kemarin bicara lantang padaku…

Selesaikan sekolahmu dengan cepat, jadilah orang sukses…

Tanpa terkira kau akan seperti ini..

Tangisku semakin menjadi,

saat…

Bibiku berbisik pada telinga kirimu:

saya ridokan uang 200ribu yang dipinjam untuk sekolah anakmu

saat..

Kakaku meberikan satu kantung plastik beras yang dibawamu untuku…

Saat..

Kutahu ternyata kau bekerja tanpa kenal lelah untuk anakmu..

Kutahu kepedihan dan penderitaan yang kau terima selama ini…

Mamah…

Aku telah selesaikan sekolahku cepat..

Aku kan jadi orang sukses untukmu..

Aku kan membuatmu bangga di syurga..

Tiada yang menghinakan kita lagi…